Sumber: media.dekoruma.com
Banyak orang bertanya-tanya, kenapa rumah yang sudah lama dipasarkan tetap belum juga laku. Padahal, kondisi bangunan terlihat baik dan harga sudah dipasang. Faktanya, proses menjual rumah memang tidak sesederhana memasang iklan lalu menunggu pembeli datang. Ada banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari kondisi pasar hingga detail kecil yang sering dianggap sepele. Supaya tidak terus terjebak dalam situasi rumah susah terjual, penting untuk memahami apa saja penyebab utamanya dan bagaimana solusi yang bisa dilakukan. Berikut tujuh alasan paling umum yang sering membuat rumah sulit laku di pasaran.
1. Kondisi Pasar Properti yang Berubah-ubah
Pasar properti sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi. Saat ekonomi melambat, daya beli masyarakat ikut menurun. Calon pembeli cenderung lebih berhati-hati dan tidak terburu-buru mengambil keputusan besar seperti membeli rumah. Di sisi lain, persaingan yang ketat juga berpengaruh. Ketika banyak rumah dijual di area yang sama, pembeli punya lebih banyak pilihan. Jika harga dan penawaran tidak cukup menarik, rumah bisa kalah saing. Hal ini sering terjadi di area dengan permintaan tinggi seperti rumah dijual di Jakarta Barat, di mana pembeli sangat selektif dalam membandingkan harga dan lokasi.
2. Pengaruh Faktor Sosial dan Demografi
Perubahan gaya hidup dan kebutuhan keluarga turut memengaruhi minat pembeli. Misalnya, tren kerja hybrid membuat sebagian orang lebih memilih rumah di pinggiran kota dengan ruang lebih luas dibanding hunian di pusat kota. Selain itu, demografi suatu wilayah juga berpengaruh. Lingkungan yang kurang diminati, minim fasilitas umum, atau memiliki citra kurang aman bisa menurunkan minat pembeli. Meski bangunannya bagus, lokasi tetap menjadi penentu utama dalam keputusan membeli rumah.
3. Lokasi Kurang Strategis
Lokasi adalah faktor yang sulit dikompromikan. Akses jalan yang sempit, jauh dari transportasi umum, atau minim fasilitas seperti sekolah dan rumah sakit bisa menjadi penghambat besar. Calon pembeli biasanya mempertimbangkan kenyamanan jangka panjang. Inilah alasan mengapa area dengan akses mudah dan fasilitas lengkap, seperti kawasan rumah dijual di Depok, tetap diminati meskipun harga tanah terus naik. Jika lokasi rumah kurang strategis, strategi pemasaran harus lebih kuat untuk menutupi kekurangannya.
4. Faktor Eksternal di Luar Kendali
Ada faktor-faktor yang tidak bisa dikontrol langsung oleh penjual, seperti perubahan regulasi pemerintah, kebijakan pajak properti, atau aturan perizinan bangunan. Situasi politik dan ekonomi nasional juga bisa memengaruhi kepercayaan pasar. Ketidakpastian ini sering membuat pembeli menunda keputusan. Dampaknya, proses penjualan rumah bisa melambat meskipun secara fisik properti tidak bermasalah.
5. Kondisi dan Tampilan Fisik Rumah
Tampilan rumah sangat memengaruhi kesan pertama. Rumah yang tampak kusam, cat mengelupas, atau interior yang terlalu usang bisa langsung menurunkan minat pembeli. Banyak orang tidak ingin repot membayangkan renovasi besar setelah membeli rumah. Solusinya tidak selalu harus mahal. Perbaikan kecil seperti pengecatan ulang, merapikan taman, atau mengganti pencahayaan bisa memberikan perubahan signifikan. Rumah yang terlihat terawat akan terasa lebih “siap huni” dan menarik secara emosional.
6. Kendala Keuangan dan Kredit Pembeli
Suku bunga KPR yang tinggi atau syarat kredit yang ketat bisa menjadi penghalang serius. Meski calon pembeli tertarik, keterbatasan akses pembiayaan sering membuat transaksi tertunda atau batal. Dalam kondisi seperti ini, penjual bisa lebih fleksibel dengan menawarkan skema pembayaran tertentu atau bekerja sama dengan pihak yang memahami kebutuhan pembiayaan pembeli. Informasi yang jelas sejak awal juga membantu menyaring calon pembeli yang benar-benar siap.
7. Harga Tidak Sesuai Pasar
Kesalahan paling umum adalah menetapkan harga terlalu tinggi. Harga yang tidak realistis akan membuat calon pembeli enggan bahkan untuk bertanya. Sebaliknya, harga terlalu rendah memang cepat menarik perhatian, tapi bisa merugikan penjual. Menentukan harga ideal sebaiknya berdasarkan riset pasar, membandingkan properti serupa di sekitar, serta mempertimbangkan kondisi rumah secara objektif. Harga yang masuk akal membuka ruang negosiasi dan mempercepat proses penjualan. Rumah yang sulit terjual biasanya bukan karena satu faktor saja, melainkan kombinasi dari berbagai aspek. Dengan memahami penyebabnya, kamu bisa menyusun strategi yang lebih tepat, mulai dari perbaikan tampilan, penyesuaian harga, hingga cara memasarkan properti. Agar proses jual beli lebih efektif dan menjangkau calon pembeli yang tepat, memanfaatkan platform properti terpercaya seperti Dekoruma bisa jadi langkah cerdas. Dengan dukungan ekosistem properti dan interior yang kuat, Dekoruma membantu mempertemukan penjual dan pembeli secara lebih profesional, transparan, dan efisien.
